Zhuge Liang adalah seorang ahli strategi Tiongkok yang terkenal. Ia adalah ahli strategi bagi Liu Bei. Ia bernama lengkap Zhuge Kongming, juga dikenal sebagai Cukat Liang di kalangan Tionghoa Indonesia.
Ia mengikuti Liu Bei setelah Liu Bei dan kedua adik angkatnya membuat tiga kunjungan untuk menjemputnya menjadi ahli strategi negeri Shu. Terharu dengan keikhlasan dan kemurnian hati Liu Bei yang menangis kerana mengenangkan nasib rakyat di zaman peperangan itu, maka ia menghambakan diri kepada Liu Bei. Nasihat pertama yang diberikannya secara pribadi kepada Liu Bei adalah "Longzhong Plan", yaitu tentang pendirian tiga negara besar di tanah Tiongkok, yaitu Wei, Wu dan Shu. Nasihat pertama Zhuge Liang ini menjadi kenyataan setelah beberapa tahun membantu Liu Bei di dalam peperangan untuk menegakkan dinasti Han yang telah rapuh.
Kebesarannya menyebabkan ia digelari salah satu dari 6 perdana menteri terbesar dalam sejarah Tiongkok.
Zhuge Liang acapkali dilukiskan sedang memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.
Zhuge Liang adalah seorang yang memahami strategi sekaligus taktis, Pada waktu Liu Bei mengunjungi dirinya untuk merekrutnya pada kali ke-3, Zhuge Liang sudah menjelaskan dan memperhitungkan pembagian tiga negara secara cermat, yang kemudian terbukti di kemudian hari. Gabungan strategi dan taktik yang paling sempurna adalah saat dia memerangi Menghou, raja barbar yang dimana raja tersebut dikalahkan sebanyak 7 kali, sehingga raja barbar tersebut takluk dengan sepenuh hati dan mendukung kerajaan Shu, dan lagi-lagi terbukti pada suku barbar taklukan Zhuge Liang, menjadi benteng terakhir yang gigih mempertahankan kerajaan Shu, meskipun akhirnya kalah juga
Kekalahan Shu, tidak dapat ditimpakan kepada Zhuge Liang seorang, karena secara taktik, bisa dikatakan taktiknya sangat sempurna, sebagai contoh, pada saat Zhuge Liang menjebak Cao-cao yang hampir saja mengakibatkan kematian Cao-Cao, satu-satunya kesalahan hanyalah kelemahan hati Guan Yu yang menghindarkan kepala Cao-Cao dari Golok Naganya. Padahal Zhuge Liang sudah mengingatkan untuk tidak melepaskan kesempatan emas tersebut
Pada waktu kematian Guan Yu di tangan pasukan kerajaan Wu, Liu Bei mengirimkan ratusan ribu tentaranya untuk membalas dendam tanpa menunggu dan berunding dengan Zhuge Liang yang pada saat itu tidak berada ditempat, pada saat Zhuge Liang mengetahui hal tersebut, dia langsung dapat memperkirakan bahwa Liu Bei pasti kalah, lagi lagi hal tersebut terbukti
Kehebatan Zhuge Liang menurut saya yang paling menakjubkan adalah pada saat kematiannya. Bila strategi yang lain dilakukan pada saat dia hidup, maka strategi ini dijalankan setelah dia mati. Bahkan Sima Yi juga mengakui kalau dirinya kalah dengan Zhuge Liang dengan mengucapkan "Bahkan seorang Sima Yi yang hidup, tidak dapat mengalahkan seorang Zhuge Liang yang mati".
Zhou Yu, penasehat terhebat negara Wu juga, pada saat menjelang ajalnya berteriak histeris, "Bila Tuhan menciptakan seorang Zhou, kenapa harus menciptakan seorang Zhuge lagi?" Negara Shu kalah, setelah beberapa puluh tahun kematiannya, lagi-lagi dia membuat takjub orang, pada bongkahan batu besar, tertulis tulisan "Disini akan berlutut seorang panglima kerajaan Wei". Pada saat panglima tersebut berhasil menguasai kerajaan Shu, dia mendengar hal tersebut dan tertawa mengejek "Bagaimana mungkin yang menang berlutut dihadapan yang kalah". Untuk membuktikan ucapannya dia mengunjungi makan Zhuge Liang dengan memakai Jirah Perangnya yang terbuat dari besi dengan angkuh, saat sampai di depan Bong Pai tersebut, ada kekuatan yang menariknya kebawah, sekuat apapun dia bertahan, akhirnya berlutut juga, setelah di periksa, ternyata di dalam tanah di depan Bong Pai tersebut dipasang magnet.
contoh Strategi Zhuge Liang yang lain:
Strategi Kota Kosong adalah strategi yang paling kusuka. Cara Zhuge Liang menebak dan mempermainkan pikiran orang itu benar-benar bisa dibilang klasik dan khas.
Adalagi strategi Zhuge Liang yang juga memanfaatkan psikologi lawan, yakni memasang api di salah satu cabang jalan.
Saat Cao Cao melarikan diri, ia dan pasukannya menemukan dua cabang dan di salah satunya, terlihat asap. Saat yang lain berpikir pasti ada pasukan lawan menunggu di cabang yang berasap, Cao Cao berpikir bahwa musuh cerdik dan sengaja menipu dengan memasang asap seakan-akan
ada pasukan lawan dicabang tersebut padahal mereka menunggu di cabang lain.
Sementara Zhuge
Liang (yang memasang jebakan) sudah berpikir bahwa Cao Cao pasti berpikir seperti itu dan sengaja menyalakan api di tempat pasukan Guan Yu menunggu.
Repost From: http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=49388
No comments:
Post a Comment